Menelisik Muara Gembong Sisi Utara Kabupaten Bekasi

Meilina Kartika – Melihat sisi permasalahan pembangunan secara logika berpikir jernih yang berdampak dalam kehidupan masyarakat di Muara Gembong,Kabupaten Bekasi.

Muara Gembong Kabupaten Bekasi

Sebagai negara berkembang Indonesia masih memiliki wilayah yang terbelakang termasuk wilayah yang tidak jauh dari Ibukota negara Jakarta, seperti kecamatan paling ujung di Kabupaten Bekasi yang bernama Muara Gembong.

Kawasan Kecamatan Muara Gembong terletak 64 km dari pusat Kota Bekasi, kecamatan ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Kerawang di sebelah timur dan teluk Jakarta di sebelah barat. Dari Jakarta butuh 4 jam perjalanan dengan mobil hingga samapai di lokasi.

Memasuki kawasan Muara Gembong jalanan mulai rusak dan berlubang, para pengendarapun harus ekstra hati-hati. Kecamatan ini terdiri dari 6 desa, dan tidak semua desa dapat dilalui kendaraan roda empat Untuk sampai di desa Pantai Mekar misalnya kita tidak dapat menggunakan kendaraan mobil, dan transportasi yang bisa kita gunakan adalah motor.

Di Desa Pantai Mekar Muara Gembong ini rumah-rumah semi permanen yang terbuat dari kayu dan tembok berdiri dipinggir kali. Aktifitas MCK atau mandi cuci kakus dilakukan disepanjang sungai.

Kampung Nelayan Muara gembong Kabupaten Bekasi

Beginilah kondisi Muara Gembong yang telah lama dibiarkan, dimana kesulitan air bersih menjadi masalah yang tidak kunjung usai di benahi oleh pemerintah daerah Kabupaten Bekasi.

Dalam segala keterbatasan penduduknya tetap mencoba untuk bertahan. Bagi sebagian warga yang memiliki sedikit dana lebih untuk pasokan air bersih dapat mereka dapatkan dari kapal penyedia air bersih dari Cilincing seharga Rp. 9.000 / drigennya.

Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memiliki uang, air hujan dan air sungailah yang teraksa menjadi pilihan mereka. Seperti beberapa desa yang saya kunjungi untuk kebutuhan keluarganya baik itu mencuci dan mandi, mereka harus berkali-kali mengambil air kali yang kotor dan keruh guna mengisi tempat airnya.

Untuk membuat air kali menjadi jernih, masyarakat di beberapa desa di Muara Gembong ini menggunakan tawas yang dibubuhkan atau dicampurkan ke dalam air tersebut. Mereka harus menciptakan air bersih sendiri dengan tawas yang dicampurkan ke dalam tempat penampungan air tersebut.

Air yang berwarna keruh dari tempat penampungannya bisa berubah menjadi jernih layaknya air minum dalam kemasan yang biasa kita temukan di pasar. Konon, informasi yang saya dapatkan di Muara gembong dari cerita masyarakat setempat,untuk mndapatkan air bersih di kawasan ini merupakan sebuah mimpi indah bagi warganya sejak dulu.

Namun warga tidak tahu entah kapan untuk mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Memang pedih rasanya bila kita melihat dan mendengar dari dekat kehidupan masyarakat di Muara Gembong Kabupaten Bekasi. Dimana sebagai salah satu Daerah otonom yang memiliki Pendapatan daerah terbesar se Jawa Barat, seharusnya pemerintah Kabupaten Bekasi mampu mensejahterakan masyarakatnya terutama dalam penyediaan sanitasi air bersih yang layak dan merata.

Warga Muara gembong yang rata-rata bermata pencarian sebagai nelayan ini menggantung nasib dari ikan tangkapannya. Itupun terkadang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari Jangankan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah, terkadang untuk makan saja hasil tangkapan mereka tidaklah cukup.

Bahan dari keterangan beberapa warga Muara Gembong Kabupaten Bekasi, mereka terkadang harus menukar hasil tangkapan ikan yang dikeringkan dengan beras untuk makan sehari-hari. Sungguh ironi sekali di tahun sekarang ini dimana semuanya yang usdah serba modern masih ada saja penduduk ataupun warga yang menukarkan ikan dengan bahan makanan lainnya. Sistem barter ataupun tukar menukar barang masih berlaku di kawasan Muara Gembong ini.

Padahal menurut informasi yang telah tersebar di media jumlah Alokasi Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bekasi sendiri setiap tahun mengalami peningkatan, bahkan jumlahnya bisa mencapai triliyunan rupiah.

Sedangkan berdasarkan informasi yang diperoleh dari beberapa media nasional, Ditahun 2016 saja APBD Kabupaten Bekasi sudah disepakati bersama di angka Rp5,3 triliun. Seharusnya Uang tersebut bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah yang penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Bekasi.

Bahkan lebih mengejutkannya lagi, di Tahun 2015 SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) Kabupaten Bekasi nyaris tembus 1 Milyar rupiah. Yang menjadi tandanya besar bagi kita semua dikemanakan uang tersebut ? uang atau anggaran yang seharusnya digunakan untuk pembangunan daerah-daerah yang tertinggal seperti kawasan Muara Gembong ini.

Konon menurut informasi yang saya terima dari keterangan beberapa masyarakat yang saya temui di Muara Gembong, sebelum seperti sekarang, dahulu roda perekonomian berputar kencang di desa ini. Penduduknay mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, dimana Tempat Pelelangan Ikan (TPI) selalu ramai oleh ikan yang melimpah dari para nelayan.

lanjut keterangan para nelayan kepda saya, sekarang ini selalu berkurang hasil dari penangkapan ikan para nelayan di Muara Gembong yang disebabkan oleh adanya limbah industri yang sangat tajam. Hal ini yang berdampak pada hasil tangkapan yang biasanya Rp. 50.000,- sampai Rp.60.000,- kini bisa berkurang drastis. Jangankan untuk bisa digunakan membeli beras, untuk bahan bakar mesin perau motor merkea saja tidak sanggup dibelinya.

Kehidupan masyarakat Muara Gembong yang jauh dari kata berkecukapn ini, tidak memupuskan harapan hidup lebih baik di masa yang akan datang bagi kehidupan anak-anak di pesisir utara Kabupaten Bekasi ini. Anak-anak dipinggiran suangai di Muara Gembong ini tetap semangat untuk bersekolah, meski untuk sekolah mereka tetap harus melintasi sungai dengan perahu atau rakit yang terbuat dari gabus yang dilanjutkan berjalan kaki menuju ke sekolah mereka.

Pembangunan di Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi yang memiliki luas sekitar 14.000 hektar ini sebenarnya bisa setara dengan daerah lainnya. Baik pembangunan infrastruktur jalan fasilitas publik, sekolah dan lainnya. Konflik yang pernah terjadi di daerah ini antara pemerintah daerah Kabupaten Bekasi dan pihak lainnya berdampak pada kehidupan masyarakat yang menjadi korban.

Hal ini tentu saja tidak boleh terjadi, bila saja pemerintah Daerah kabupaten Bekasi mampu menyelesaikan dengan cepat segala permasalahan yang timbul di Muara Gembong. Jelas sudah semua menunjukan hasi kerja secara nyata yang bisa terlihat hasilnya dalam melakukan program percepatan pembangunan di Kabupaten Bekasi yang masih menjadi terkendala hingga saat ini seperti yang terjadi di kawasan Muara Gembong Kabupaten Bekasi.